Salam Redaksi

Selamat datang di Suara Demartha

Sabtu, 19 Maret 2011

SETIAP PAGI INDONESIA DI TERJANG TSUNAMI

Kembali hatiku tergerak untuk menulis

Sebuah tulisan yang mungkin tak bermakna bagi segelintir orang yang merasa

Saatnya kita mengambil sikap

Bukan hanya duduk duduk berpangku tangan melihat ke hancuran zaman’

Bukan bermaksud menjadi politisi

Toh saya tak ada basic mengenai ini

Dan bukan pula sok mengkritisi

Tapi hanya mencurahkan dan kegundahan dan sembilu di dalam hati

Hari ini kembali ku membuka pagi

Ada yang berbeda kali ini

Semua berita yang kubaca bagaikan menggores hatiku dengan tema peduli

Saya berbicara bukan atas nama lembaga

Bukan pula untuk kepentingan politik

Saya berbicara atas nama pribadi

Akhir-akhir ini penduduk dunia di kejutkan dengan sebuah bencana

Apa lagi kalau bukan gempa dan tsunami yang terjadi di negri sakura

Sebuah gempa 9 SR menggoyang dan meluluhlantakkan sebuah negri

Ribuan nyawa melayang

Puluh ribuan lagi hilang

Lalu semua berkata peduli

Dengan logo-logo dan status bertuliskan “Pray for Japan”

Tapi bukan ini yang ingin ku kaji

Bukan karna ku tak punya hati dan simpati

Sekarang siapa yang peduli

Ribuan warga melayang di negri sendiri

Bukan karna sebuah peristiwa yang tak dapat di prediksi seperti gempa dan tsunami

Tapi karna tak sensitifnya hati nurani

Setiap hari Indonesia di goyang gempa

Bukan gempa bumi

Tapi sebuah terjangan yang di akibatkan oleh para pemimpin-pemimpin kami

Saya berasa di negri dongeng

Berada di sebuah negri subur kaya nan sentausa

Yang katanya negri dengan kolam susu yang berlimpah ruah memberikan emas kepada setiap penghuninya

Apapun yang ditanam dapat berubah menjadi pangan

Setiap membuka mata,telah ada makanan terhidang

Lumbung padi penuh terisi

Tambak-tambak ikan dan udang menggaung biru

Sawah-sawah menguning

Ladang-ladang subur makmur

Tapi semua bak diterjang tsunami

Makhluk-makhluk kotor berkedok tikus-tikus kantor menggerogoti semua surga nusantara

Satu persatu namun pasti

Menulari setiap lapisan masyarakat yang mulai menikmati janji-janji

Dan akhirnya rakyat mesti memakan dagingnya sendiri

Negri macam apa ini?

Negri dongeng dengan borok dan koreng?

Berharap cerita yang kubaca berakhir seperti cerita Cinderella yang berujung bahagia

Bukan bertanya salah siapa

Tapi semua turut andil dalam kegoncangan negri ini

Dari dini,anak anak telah di ajari beringkar janji

Sebuah ajaran yang tak disadari,namun itu pasti

Di tingkat pendidikan tinggi

Siswa-siswa sudah diajarkan korupsi

Jilat menjilat untuk mendapat keuntungan pribadi

Bukan sebuah mimpi,tapi ini realita

Bukan bersorak buntu, hanya menunggu waktu

Kalau bukan dari dalam diri ini memupuk dan mensensitfkan nurani

Entah kapan bencana kemanusiaan ini akan berhenti

Aku rasa, di Indonesia adalah gudangnya relawan

Tak perlu lembaga

Tak perlu latihan

Semuanya sudah terbiasa

Rela ditindas

Rela dibajak

Rela dibunuh

Rela mati untuk kepedihan diri

Rela dipenjara

Rela melihat saudaranya tercekik

Rela menjadi tumbal-tumbal politik

Rela menjadi benteng-benteng hidup dari penguasa

Rela dimaki

Ya

Semua ini karna terbiasa

Terbiasa miskin

Terbiasa tertindas dan menindas

Terbiasa menikung dan ditikung

Terbiasa membunuh

Terbiasa menyalahkan dan disalahkan

Terbiasa terrtawa dan ditertawai

Sudahlah

Percuma berdebat masalah martabat

Tak ada pangkal,tak ada ujung

Bukan saatnya pasrah dan gundah

Bukan saatnya berangan dan berpangku tangan

Ini soal kesempatandan keberuntungan

Karna regulasi dan advokasi tak berguna sama sekali.

Mungkin ini cara untuk bersabar dan berjiwa besar

Sebuah jihad-jihad kecil

Mengais sedikit demi sedikit kejujuran yang tersisa

Dengan jiwa-jiwa teriris,kita belajar tetap optimis

Walau gempa-gempa besar kepemimpinan ini tetap melanda

Dengan jiwa-jiwa muda yang teguh para penerus bangsa kita dapat melawannya

Walau caci maki para bedebah dalam tong sampah tetap menggaung

Anggap sebuah pewarna hidup

Camkan

Jangan mau terlena dengan kesengsaraan

Saatnya kita bangkit

Dengar nyanyian pagi

Sebuah bisikan nasehat dunia penyegar hati

Karna kalau bukan kita, siapa lagi

PRAY FOR INDONESIA

2 komentar:

  1. like this bg engga..
    yes,the important point is
    PRAY FOR INDONESIA >_<b

    BalasHapus
  2. Pray For Indonesia...
    R.I.P kepedulian atas bangsa sendiri

    BalasHapus