Salam Redaksi

Selamat datang di Suara Demartha

Sabtu, 26 Juni 2010

Gangguan Kepribadian

1. Perkembangan Psikologi
Perkembangan psikologis tidak terlepas dari perjalanan atau siklus hidup dari seseorang. Karena perkembangan manusia terjadi sepanjang siklus hidupnya bukan semata pada masa anak-anak saja. Semenjak berkembangnya psikiatri kemudian perhatian mulai tertuju pada perjalanan perkembangan kepribadian. Perumusan awal memeriksa peranan peristiwa psikologis internal dan efek perkembangan pada masa anak-anak terhadap kepribadian di masa dewasa. Konsep selanjutnya memperluas pusat perhatian dengan memasukkan pengaruh proses interpersonal dan sifat perubahan sepanjang hidup. Pemetaan siklus hidup (kadang disebut perjalanan hidup) penting untuk melengkapi pengetahuan mengenai perilaku manusia dan juga dalam meramalkan kesulitan-kesulitan yang timbul selama perkembangan manusia.

Anggapan paling mendasar dari berbagai anggapan yang muncul mengenai teori siklus hidup adalah bahwa perkembangan terjadi dalam stadium-stadium yang berurutan. Kalau menurut prinsip epigenetik yang dikembangkan Erik Erikson masing-masing stadium mengikuti stadiium sebelumnya, dan masing-masing stadium harus dilalui secara memuaskan untuk memungkinkan proses perkembangan berjalan secara lancar. Jika suatu stadium tidak dicapai, semua stdium selanjutnya mencerminkan kegagalan tersebut dalam bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri secara fisik, kognitif, sosial, atau emosional. Satu hal lagi adalah bahwa tiap-tiap stadium memiliki titik-titik kritis yang harus dilewati sehingga mengharuskan orang untuk beradaptasi yang terdiri dari interaksi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosial (biopsikososial).

Sejak mulainya, sudah banyak yang mengemukakan mengenai teori siklus hidup ini. Satu karya besar adalah sekema perkembangan yang dikembangkan oleh Sigmund Freud pada tahun 1905 dalam bukunya Three Essays on The Theory of Sexuality. Menurut Freud, fase perkembangan masa anak-anak berhubungan dengan pergeseran yang berturut-turut dalam penanaman energi seksual ke daerah-daerah tubuh yang biasanya dihubungkan dengan erotisme: mulut, anus, dan genitalia. Ia mengklasifikasikan perkembangannya dalam berapa fase:
1) Fase oral (sejak lahir- usia 1 tahun)
2) Fase anal (1 – 3 tahun)
3) Fase falik (3 – 5 tahun)
4) Fase laten (5 – 6 tahun)
5) Fase genital (6 – 12 tahun)
Pandangan dasar yang dikemukakan Freud adalah bahwa pemecahan(resolusi) yang berhasil pada fase anak-anak adalah penting bagi berfungsinya orang dewasa secara normal.
Satu lagi penyumbang teori mengenai perkembangan psikologi adalah Erik Erikson. Beliau menyusun toeri perkembangan manusia yang melingkupi keseluruhan rentang siklus kehidupan, mulai dari masa bayi sampai usia lanjut. Pada dasarnya Erikson membagi perkembangan kepada 8 stadium :
1) Stadium 1 : Kepercayaan lawan Ketidakpercayaan.
2) Stadium 2 : Otonomi lawan Rasa Ragu dan Malu-Malu.
3) Stadium 3 : Inisiatif lawan Rasa Bersalah.
4) Stadium 4 : Industri lawan Inferioritas.
5) Stadium 5 : Identitas Ego lawan Kebingungan Peran.
6) Stadium 6 : Keintiman lawan Isolasi.
7) Stadium 7 : Generativitas lawan Stagnasi.
8) Stadium 8 : Integritas Ego lawan Keputus-asaan.

Kedelapan stadium tersebut masing-masing mempunyai aspek positif dan negatif, mempunyai krisis – krisis emosional spesifik dan dipengaruhi oleh interaksi biologis, kultural, dan lingkungan masyarakat seseorang.

2. Apparatus Psikiatri : Id, Ego, Superego
Menurut Freud, secara struktur jiwa itu dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
- Id
- Ego, dan
- Super ego

Id¸ ialah tempat dorongan naluri(insting) dan berada dibawah pengawasan proses primer. Karena itu id bekerja sesuai dengan prinsip kesenangan tanpa memperdeulikan kenyataan. Seorang bayi pada waktu lahir telah mempunyai id. Ia tidak mempunyai kemampuan untuk menghambat, mengawasi atau memodifikasi dorongan nalurinya.

Ego, lebih teratur organisasinya dan tugasnya ialah untuk menghindari ketidaksenangan dan rasa nyeri dengan mealawan atau mengatur pelepasan dorongan nalurinya agar sesuai dengan tuntutan dunia luar. Ego bekerja sesuai dengan prinsip kenyataan dan mempunyai mekanisme pembelaan. Ego mempunyai berbagai fungsi:
o Kontrol & pengaturan dorongan instingtuil
 menunda/memperlambat dorongan.
 pleasure principle reality principle
o Judgement (pertimbangan)
 resiko
 logic
o Relation to reality
 sense of reality – didalam diluar tubuh
 eality testing – fantasi internal kenyataan eksternal
 adaptation to reality – respon terhadap perubahan berdasarkan pengalaman
o Objek relationship
 mengadakan hub dengan orang lain(aspek +/-)
 bermula dengan ibu
o Fungsi sintetik dari ego :
integrasi dari elemen keseluruhan (mengkoordinasi, generalisasi, menyederhanakan)
o Fungsi otonom primer
 berkembang dari konflik intrapsikik & pertahanan
 persepsi belajar, intiligent, kecerdasan, bahasa, pikiran, pemahaman & pergerakan
o Fungsi otonom sekunder
 pengembangan dari fungsi awal

Super ego, menegakkan dan mempertahankan kesadaran moral seseorang atas dasar kompleks sistem ideal dan nilai-nilai yang diinternalisasikan dari orang tua. Superego selanjutnya berfungsi sebagai suatu agen yang memungkinkan meneliti dengan cermat tentang perilaku, pikiran dan perasaan seseorang. Ia membuat perbandingan dengan standar perilaku yang diharapkan dan menawarkan persetujuan atau penolakan. Aktivitas tersebut sebagian besar terjadi secara tidak disadari.

Manusia membangun mekanisme pertahanan egonya terhadap keadaan yang mengancam keutuhan integritas pribadinya karena ego merupakan inti kesatuan manusia. Itu berarti ancaman terhadap ego merupakan ancama terhadap integritas/tulang punggung eksistensi manusia itu. Mekanisme pertahanan ego merupakan hal normal yang penting karena memperlunak kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi perasaan yang menyakitkan karena pengalaman yang tidak menyenangkan dan juga untuk mempertahankan perasaan layak serta harga diri kecuali jika sudah menjadi sedemikian kerasnya sehingga bukan lagi membantu tapi malah menggangu integritas diri.

3. Mekanisme Pertahanan Ego
Ada beberapa mekanisme pertahanan ego, mencakup :
• Represi : Menyangkal secara tidak disadari.
• Supresi : Menyangkal secara disadari.
• Sublimasi : Mengalihkan sesuatu yang tidak diterima lingkungan menjadi dihargai lingkungan.
• Proyeksi : Mengalihkan kepada orang lain pikiran/perasaan sendiri.
• Rasionalisasi : Penjelasan yang dapat diterima secara sosial yang bukan merupakan sebenarnya.
• Denial : Penolakan terhadap suatu situasi yang menyebabkan stress.
• Regresi : Mundur ke fase perkembangan sebelumnya.
• Acting out : Tingkah laku regresi.



4. Neurotransmiter yang Mempengaruhi Perilaku
Neurotransmitter adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk relay, amplifikasi, dan modulasi sinyal antara suatu neuron dengan sel lain. Kriterianya:
– Terdapat prekursor dan / atau enzim sintesis yang berlokasi di neuron presinap.
– Zat tersebut harus ditemukan dalam organel presinap.
– Zat tersebut harus terdapat dalam kuantitas cukup di neuron presinap untuk mencetuskan efek di neuron post sinap.
– Harus terdapat reseptor postsinap yang spesifik untuk zat spesifik, dan zat itu harus dapat terikat pada reseptor postsinap.
– Harus ada mekanisme biokimia untuk inaktifasi.
– Efek ditentukan lokasi reseptor

Neurotransmitter yang berperan dalam perilaku:
• Dopamin (DA)à motivasi – kenikmatan -- kecanduan
• GABA à pengendali
• Noradrenalin (NA) à waspada à flight or fight
• Serotonin à emosi à pencetus perilaku

Pengaruh neurotransmitter:
Mekanisme kenikmatan
Perangsangan neuron pelepas serotonin (5HT) di hipothalamus à merangsang pelepasan peptida opioid metencephalinà menghambat aktifitas neuron pelepas GABA di substansia nigra à disinhibisi neuron pelepas DA à sinyal (isyarat) à pelepasan neurotransmiter dopamin (DA) dari VTA ke NAc dan sistem limbik (amigdala dan hipocampus)
• Perilaku pemuasan dorongan
DA akan diikat pada DRD2 di NAc dan hipocampus.
• Timbullah perasaan nikmat à reinforcing positif à REPETISI

Mekanisme stress
Dalam keadaan normal, hormon stres dilepaskan dalam jumlah kecil sepanjang hari. Tetapi bila menghadapi stres, kadar hormon ini meningkat secara dramatis. Awal pelepasan hormon stres dimulai di otak. Pertama kali, corticotropin-releasing factor (CRF) dilepaskan dari otak ke aliran darah, sehingga mencapai kelenjar hipofise yang berlokasi tepat dibawah otak. Di lokasi ini CRF merangsang pelepasan adrenocorticotropin hormone (ACTH), yang pada gilirannya melepaskan berbagai hormon. Hormon paling utama ialah kortisol dari kelenjar suprarenalis. Kortisol beredar diseluruh tubuh untuk membantu mekanisme coping.terhadap stres. Bila stresornya kecil, setibanya diotak dan kelenjar hipofise, kortisol itu akan menghambat pelepasan selanjutnya dari CRF dan ACTH, yang segera kembali ke kadar normalnya. Tetapi bila stresor tersebut kuat, sinyal di otak untuk melepaskan lebih banyak lagi CRF lebih kuat dari sinyal penghambat dari kortisol, dan Siklus Hormon-Stres akan berulang lagi.


5. Pemeriksaan Psikiatrik
Anamnesis
• Identitas Pasien
• Identitas Allo Anamnesis
• Keluhan Utama
• Keluhan Pasien Saat ini
• R. Perjalanan Penyakit
• R. Premorbid
• R. Pendidikan
• R. Sosial Ekonomi
• R. Penggunaan/ Penyalahgunaan NAPZA
• R. Perilaku Buruk
• R. Penyakit Dalam Keluarga

Status Psikiatrik
• Keadaan umum
 Penampilan
 Kesadaran
 Sikap
 Tingkah Laku Motorik
 Ekspresi Fasial
 Verbalisasi / Cara Bicara
 Kontak Psikis

• Keadaan spesifik
a. Keadaan alam perasaan
1. Keadaan Afektif
2. Hidup Emosi
- Stabilitas
- Pengendalian
- Echt – unecht
- Einfuhlung
- Dalam – Dangkal
- Skala differensiasi
- Arus Emosi

b. Keadaan fungsi intelek
1. Daya Ingat:
- segera
- pendek
- lama
- sangat lama
2. Daya Konsentrasi
3. Orientasi
- Tempat, waktu
- Personal
- Situasi
4. Luas Pengetahuan Umum
5. Diskriminatif Insight
6. Diskriminatif Judgement
7. Dugaan Taraf Intelegensia
8. Kemunduran Intelek
c. Gangguan sensasi dan persepsi
1. Ilusi
2. Halusinasi
- akustik
- Visual
- Olfaktorik
- Taktil
- Gestatorik
d. Keadaan proses berfikir
1. Kecepatan Proses Fikir
2. Mutu Proses Fikir
- Jelas dan tajam
- Sirkumstansial persevaratif
- Inkoheren
- Terhalang
- Terhambat
- Meloncat – loncat ( flight of ideas )
- Verbigerasi
- Persevaratif
e. Isi pikiran
1. Pola Sentral
2. Fobia
3. Obsesi
4. Delusi / waham
5. Kecurigaan
6. Konfabulasi
7. Rasa permusuhan/dendam
8. Perasaan Inferior
9. Banyak - sedikit
10. Rasa bersalah
11. Hipokhondria
12. Lain – lain
f. Kelainan dorongan instinktual dan perbuatan
- Abulia
- Stupor
- Raptus
- Kegaduhan umum
- Deviasi seksual
- Ekhopraksia
- Vagabondage
- Pyromania
- Mannerisme
- Lain – lain
g. Anxietas yang terlihat nyata
h. Hubungan dengan realita
- Perilaku
- Fikiran
- Perasaan

Kriteria Diagnosis dapat Menggunakan :
- ICD 10
- DSM IV
- PPDGJ III

Teknik diagnostik bisa menggunakan diagnosis multi aksial. Dimana terdapat 5 aksis.
1. Aksis I : - Gangguan Klinis
- Kondisi lain yang menjadi fokus
- perhatian klinik
2. Aksis II : - Gangguan Kepribadian
- Retardasi mental
3. Aksis III : - Kondisi Medik Umum
4. Aksis IV : - Masalah Psikososial & Lingkungan
5. Aksis V : - Penilaian Fungsi Secara Global (GAF : Global Assesment Of Function )

6. Gangguan Kepribadian dan Kejiwaan
Kepribadian
Terdapat 3 kelompok pengertian kepribadian:
a. Kepribadian dalam arti kata populer sama dengan kualitas seseorang yang menyebabkan dia disukai atau tidak disenangi oleh orang lain.
b. Kepribadian dalam arti kata filsafat ialah susuatu yang rasional dan individual.
c. Kepribadian dalam arti kata empiris meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun dalam dirinya dan yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang, baik yang datang dari dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi manusia itu.

Ciri dari kepribadian yaitu berupa pola perilaku yang cenderung menetap, relatif stabil, merupakan ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara-cara berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain.

Kepribadian kadang dibagi menjadi beberapa tipe. Tipologi ini membagi kepribadian yang normal menjadi kelompok-kelompok tertentu dengan sifat-sifat tertentu pula.
Tipologi dari C.G. Jung ialah:
Introvert : Orang yang suka memikikan tentang diri sendiri, banyak fantasi, lekas merasakan kritik, menahan ekspresi emosinya, lekas tersinggung dalam diskusi, suka membesarkan kesalahannya, analisa dan kritik diri sendiri menjadi buah pikirannya.
Ekstrovert: Orang yang melihat pada kenyataan dan keharusan, tidak lekas merasakan kritik, ekspresi emosinya spontan, dirinya tidak dituruti dalam alasannya, tidak begitu merasakan kegagalannya, tidak begitu menganalisa dan mengkritik diri sendiri.
Kapan seseorang dikatakan normal atau abnormal merupakan suatu hal yang relatif. Ada tiga sudut pandang yang bisa digunakan untuk meninjau masalah norma-abnormal, yaitu:
- Sudut pandang patologi
- Sudut pandang statistik
- Sudut pandang kebudayaan
Kriteria jiwa normal
Maslow dan Dittelman membuat kriteria pribadi berfungsi normal atau sehat dengan sedikit perubahan dari Saanin, yaitu:
a. Memiliki perasaan aman yang wajar.
b. Mempunyai derajat penilaian diri sendiri yang wajar, memiliki wawasan (insight)
c. Memiliki tujuan hidup yang realistis.
d. Memiliki hubungan yang efektif dengan kenyataan.
e. Memiliki hubungan yang terintegrasi dan konsisten.
f. Memiliki kesanggupan untuk belajar dari pengalaman.
g. Memiliki spontanitas yang wajar.
h. Memiliki emosionalitas yang sesuai.
i. Memiliki kesanggupan untuk dapat memuaskan kehendak-kehendak jasmaniah secara wajar dan tidak berlebih-lebihan, dengan kesanggupan untuk memuaskan melalui cara-cara yang disetujui.

Bagaimanapun, semua ini adalah nilai-nilai yang relatif. Tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi kriteria ini dengan sempurna. Seseorang mungkin kurang dalam satu hal, tetapi masih memiliki kesehatan yang baik berarti dia masih dianggap sebagai orang yang normal dan sebaliknya.

Gangguan kepribadian:
Ciri kepribadian yang terganggu/abnormal :
1) Disharmoni sikap dan perilaku cukup berat meliputi beberapa fungsi : afek, kesiagaan, pengendalian impuls, cara memandang dan berfikir, gaya berhubungan dengan orang lain.
2) Pola perilaku abnormal berlangsung lama / berjangka panjang, pervasif, maladaptif, tidak fleksibel.
3) Selalu muncul pada masa kanak-kanak atau remaja berlanjut sampai dewasa.
4) Menyebabkan personal distress.
5) Mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan.
6) Bersifat alloplastik dan ego sintonik. Tidak berkaitan langsung dengan kerusakan / penyakit otak berat (Gross brain damage or disease) atau gangguan jiwa.
Klasifikasi Gangguan Kepribadian:
KelompokA : Aneh,eksentrik
1. Gangguan kepribadian paranoid
2. Gangguan kepribadian skizoid
3. Gangguan kepribadian skizotipal

Kelompok B : Dramatik, emosional, tidak menentu / erratik
1. Gangguan kepribadian antisosial
2. Gangguan kepribadian ambang
3. Gangguan kepribadian histerionik
4. Gangguan kepribadian narsistik

Kelompok C : Cemas, ketakutan
1. Gangguan kepribadian menghindar
2. Gangguan kepribadian dependen
3. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (anankastik)
4. Gangguan kepribadian pasif agresif
5. Gangguan kepribadian depresif

1. Gangguan Kepribadian Paranoid
Ketidakpercayaan dan kecurigaan perpasif terhadap orang lain:
• Menduga tanpa dasar orang lain membahayakan / mengkhianatinya.
• Ragu terhadap loyalitas dan kejujuran teman.
• Tindakan orang lain dianggap merendahkan / mengancam.
• Pendendam.
• Curiga terhadap kesetiaan pasangan / cemburu yang patologis.
• Membanggakan diri bahwa dia rasional dan objektif, sebenarnya tidak.
• Emosi dingin, tidak hangat.
• Terjadi pada dewasa awal.

2. Gangguan Kepribadian Skizoid
Pola perpasif pelepasan dari hubungan sosial dan rentang pengalaman emosi yang terbatas dalam lingkungan interpersonal:
• Tidak memiliki minat atau menikmati hubungan dekat dengan orang lain.
• Selalu memilih aktivitas seorang diri.
• Memiliki sedikit, jika ada, minat menikmati hubungan seksual dengan orang lain.
• Tidak memiliki teman dekat selain sanak saudara derajat pertama.
• Tidak acuh terhadap pujian / kritikan.
• Emosi dingin, lepas, pendataran afek.
• Mulai dewasa awal.

3. Gangguan Kepribadian Skizotipal
Pola perpasif defisit sosial dan interpersonal:
• Ideas of reference (gagasan yang menyangkut diri sendiri).
• Keyakinan aneh atau pikiran magis (percaya takhyul, clairvoyance/dapat melihat apa yang akan terjadi, telepati).
• Pengalaman persepsi yang tidak lazim, illusi tubuh.
• Pikiran atau bicara aneh (samar-samar, sirkumstansial, metaforik, terlalu berbelit, stereotipik).
• Kecurigaan / idea paranoid.
• Afek tidak sesuai atau terbatas.
• Perilaku atau penampilan aneh, eksentrik, janggal.
• Tidak memiliki teman akrab atau orang yang dipercaya kecuali sanak saudara derajat pertama.
• Kecemasan sosial, ketakutan paranoid.
• Mulai dewasa awal.

4. Gangguan Kepribadian Antisosial
Pola perpasif tidak menghargai dan melanggar hak orang lain:
• Gagal mematuhi norma sosial sesuai hukum (mencuri dsb.)
• Tidak jujur (bohong, nama samaran, menipu).
• Impulsivitas, tidak dapat merencanakan masa depan.
• Irritabilitas,agresivitas(perkelahian, penyerangan).
• Secara sembrono mengabaikan keselamatan diri/orang lain.
• Terus-menerus tidak bertanggung jawab.
• Tidak ada penyesalan.
Terjadi sejak usia 15 tahun.

5. Gangguan Kepribadian Ambang
Pola perpasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri dan afek, impulsivitas yang jelas:
• Perbatasan antara neurosis dan psikosis.
• Disebut juga skizofrenia ambulatorik.
• Disebut juga as if personality.
• Disebut juga skizofrenia pseudoneurotik.
• Disebut juga karakter psikotik.
• Disebut juga gangguan kepribadian yang tidak stabil secara emosional.
• Mulai dewasa awal.

6. Gangguan Kepribadian Histrionik
Pola perpasif emosionalitas dan mencari perhatian berlebihan:
• Tidak merasa nyaman dalam situasi dimana ia tidak merupakan pusat perhatian.
• Interaksi dengan orang lain secara seduktif (godaan seksual) atau perilaku provokatif.
• Pergeseran emosi yang cepat, ekspresi emosi yang dangkal.
• Terus-menerus menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian.
• Gaya bicara sangat impresionistik.
• Dramatisasi diri, teatrikal, ekspresi emosi berlebihan.
• Mudah disugesti atau mudah dipengaruhi orang lain/situasi.
• Menganggap hubungan menjadi lebih intim ketimbang sebenarnya.
Mulai dewasa muda.

7. Gangguan Kepribadian Narsistik
Pola perpasif kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan kebanggaan, tidak ada empati:
• Memiliki rasa kepentingan diri yang besar (jadi orang terkenal dsb).
• Preokupasi dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan, dsb.
• Yakin bahwa ia adalah “khusus/unik”, dapat dimengerti oleh orang yang khusus atau memiliki status tinggi.
• Butuh kebanggaan berlebihan.
• Perasaan bernama besar mencolok.
• Ekspoitatif secara interpersonal à mengambil keuntungan dari orang lain untuk capai tujuannya sendiri.
• Tidak memiliki empati: tidak mau mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain.
• Sering merasa iri pada orang lain atau yakin orang lain iri padanya.
• Perilaku/sikap yang congkak/sombong.
• Mulai dewasa awal.

8. Gangguan Kepribadian Menghindar/Cemas
Pola perpasif hambatan sosial, perasaan tidak cakap, peka berlebihan terhadap penilaian negatif:
• Menghindari aktifitas pekerjaan yang memerlukan kontak interpersonal (oleh karena takut akan kritik, celaan, penolakan).
• Tak mau terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin disenangi.
• Keterbatasan dalam hubungan intim ( takut dipermalukan / ditertawai ).
• Preokupasi dengan sedang dikritik/ditolak dalam situasi sosial.
• Terhambat dalam situasi interpersonal yang baru oleh karena perasaan tidak adekuat.
• Memandang diri sendiri janggal, tidak menarik, lebih rendah dari orang lain.
• Enggan untuk mengambil risiko pribadi atau melakukan aktivitas baru.
Mulai dewasa awal.

9. Gangguan Kepribadian Dependen
• Sulit ambil keputusan tanpa bantuan orang lain.
• Butuh orang lain untuk menerima tanggung jawab.
• Sulit mengekspresikan ketidaksetujuan pada orang lain.
• Sulit memulai sesuatu dengan dirinya sendiri (tidak punya keyakinan diri).
• Berusaha berlebihan mendapatkan asuhan dan dukungan orang lain.
• Merasa tidak nyaman/tidak berdaya jika sendirian.
• Rasa takut ditinggal untuk merawat diri sendiri.
• Mulai dewasa awal.

10. Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif (Anankastik)
• Terokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, jadwal, susunan.
• Perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas.
• Secara berlebihan setia pada pekerjaan dan produktivitas, mengabaikan waktu luang dan persahabatan.
• Terlalu hati-hati, teliti, tidak fleksibel tentang moral, etika, nilai-nilai.
• Enggan mendelegasikan tugas atau bekerja dengan orang lain.
• Kikir untuk diri sendiri atau orang lain.
• Kaku dan keras kepala.
• Mulai dewasa awal.

11. Gangguan Kepribadian Pasif Agresif
• Secara pasif menolak memenuhi tugas sosial dan pekerjaan rutin.
• Mengeluh tidak dimengerti dan tidak dihargai.
• Cemberut dan argumentatif.
• Tanpa alasan mengkritik dan mencemooh atasan.
• Rasa cemburu dan benci terhadap yang lebih beruntung.
• Suara diperkeras, keluhan terus-menerus atas ketidakberuntungannya.
• Ganti-ganti antara tantangan bermusuhan dan perasaan berdosa.
• Mulai dewasa awal.

12. Gangguan Kepribadian Depresif
• Tenang, introvert, pasif, tidak sombong.
• Bermuram durja, pesimis, serius, tak dapat merasakan kegembiraan.
• Mengkritik diri sendiri, menyalahkan diri sendiri.
• Ragu-ragu, kritik orang lain, sukar memaafkan.
• Hati-hati, bertanggung jawab, disiplin.
• Memikirkan hal yang sedih, merasa cemas.
• Asyik dengan peristiwa negative, rasa tak berdaya, kelemahan pribadi.

7. Gangguan Ansietas
Anxietas : Respons terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar, konfliktual.
Anxietas normal:
- Bayi : perpisahan dengan ibunya.
- Anak : hari pertama sekolah
- Remaja : kencan pertama
- Dewasa : merenungkan usia lanjut/kematian
- Mengalami hal baru (belum dicoba).
Anxietas patologis: Respons yang tidak sesuai terhadap stimuli yang diberikan berdasar pada intensitas dan durasinya.
Fear (ketakutan): Respons dari suatu ancaman yang asalnya diketahui, eksternal, jelas, bukan bersifat konflik.

Anxietas bisa merupakan gejala dasar dari Neurosa.
Neurosa adalah sekelompok gangguan jiwa yang gejala dasarnya adalah anxietas/kecemasan.
Etiologi neurosa:
Faktor yang menyebabkan gangguan ini terletak terutama pada bidang emosi. Tidak jarang sejak masa kanak-kanak terdapat sifat yang merupakan gejala neurosa, tetapi ynag sudah sedemikian berakar dalam kepribadian sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dan dianggap sebagai sifat konstitusional. Mungkin juga hal itu bukan diwariskan melainkan didapat waktu individu itu masih anak-anak.

Ada faktor predisposisi yang menyebabkan seseorang bisa terganggu (neurosa) sedangkan orang lain tidak, seperti:
- Faktor keturunan
- Fisik
- Pendidikan
- Pengalaman
- Adat – istiadat keluarga dan masyarakat, serta
- Pandangan hidupnya

Faktor Biologi
1. Hiperreaksi autonom à tonus simpatis meningkat.
2. Pelepasan katekolamin meningkat.
3. Norepinefrin meningkat.
4. GABA à hiperaktivitas SSP.
5. Serotonin, dopamin meningkat.
6. Hiperaktif korteks cerebral temporal.
7. Hiperaktif pusat neuron noradrenergik (lokus seruleus).

Psikologik
1. Impuls tak sadar (sex, agresi) mengancam meletus ke dalam alam sadar à gangguan cemas.
2. Mekanisme defensif dipakai untuk mengatasi cemas.
3. Displacement (pergeseran) menimbulkan fobia.
4. Reaksi formasi, ondoing, pergeseran menimbulkan gangguan obsesif-kompulsif.
5. Rubuhnya represi menimbulkan gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh.

Teori Belajar
1. Cemas timbul akibat frustasi atau stress, menjadi respons terkondisi terhadap situasi-situasi lain.
2. Dapat dipelajari lewat identifikasi dan imitasi pola kecemasan orang tua (teori belajar sosial).
3. Cemas terkait dengan stimulus alamiah yang berat seperti kecelakaan, dipindahkan ke stimulus lain lewat pengkondisian à menimbulkan fobia.

Klasifikasi Neurosa
I. Neurosa cemas/anxietas
1. Anxietas fobik
 Cemas dicetuskan oleh situasi/objek fobik.
 Situasi/objek fobik dihindari atau dihadapi dengan perasaan terancam.
 Gejala psikik/psikologik, fisik (motorik, perilaku, otonomik).

a. Agorafobia
Takut banyak orang/keramaian, tempat umum, bepergian ke luar rumah, bepergian sendiri.

b. Fobia Sosial
• Takut diperhatikan orang lain dalam kelompok relatif kecil: takut bicara di depan umum, makan di depan umum.
• Harga diri rendah, takut dikritik, malu, tremor, mual.
• Cenderung menghindar à isolasi sosial total.

c. Fobia Khas/Terisolasi
Takut terbatas pada situasi/objek yang sangat spesifik, seperti: binatang tertentu, tempat tinggi, petir, darah, dll.

2. Gangguan Panik (Anxietas Paroksismal Episodik)
• Adanya serangan anxietas berat (panik) berulang (beberapa kali dalam sebulan), antar serangan relatif tenang, tidak terduga/mendadak.
• Gejala dominan palpitasi, nyeri dada, rasa tercekik, pusing kepala, depersonalisasi/derealisasi, rasa takut mati, takut kehilangan kendali, takut jadi gila.
• Buru-buru meninggalkan tempat kejadian.
• Serangan berlangsung beberapa menit (3’-5’).

3. Gangguan Cemas Menyeluruh
Anxietas menyeluruh, menetap, setiap hari.
Gejala dominan:
• Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, gelisah, sulit konsentrasi dll).
• Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tak dapat santai).
• Overaktifitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar, sesak nafas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering dsb).
• Pada anak-anak : kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan (reassurance), keluhan somatik berulang.

4. Gangguan Campuran Anxietas-Depresi
• Terdapat gejala anxietas dan gejala depresi.
• Terdapat gejala otonomik (tremor, palpitasi, mulut kering, mules, dll).

II. Neurosa obsesif – kompulsif
 Pikiran obsesi
Gagasan, bayangan pikiran atau impuls timbul dalam pikiran individu secara berulang-ulang, dirasakan mengganggu, dicoba menghilangkan tanpa hasil, terjadi secara involunter, tidak dikehendaki, dikenali sebagai pikirannya sendiri.
 Tindakan/ritual kompulsif
Perilaku stereotip, diulang berkali-kali, tidak mengenakkan, tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, berulangkali menantangnya.
 Terdapat gejala otonomik dari anxietas atau terdapat perasaan tertekan dan ketegangan tanpa gejala otonomik.
Bentuknya bisa:
a. Predominan pikiran obsesif
b. Predominan tindakan kompulsif
c. Campuran pikiran dan tindakan kompulsif

III. Reaksi terhadap stres berat & gangguan penyesuaian
Diagnosa ditegakkan atas dasar:
1. Simptomatologi.
2. Perjalanan penyakit.
3. Salah satu dari dua faktor pencetus/stressor:
a. Stress akut yang berat (suatu stress kehidupan luar biasa) à reaksi stress akut dan gangguan stress pasca trauma.
b. Trauma berkelanjutan / berkepanjangan (suatu perubahan penting dalam kehidupan yang menimbulkan situasi tidak nyaman berkelanjutan à gangguan penyesuaian.
- Merupakan konsekuensi langsung dari stress akut berat atau trauma berkepanjangan.
- Sebagai respons maladaptif terhadap stress akut berat atau trauma berkepanjangan , dimana mekanisme penyesuaian (coping mechanisme) tak berhasil.
1. Stress akut
- Stressor akut berat fisik/mental à gejala timbul segera setelah kejadian. - Gejala-gejala campuran dan berubah:
 Bengong (daze).
 Depresi, anxietas, marah, kecewa, overaktif, penarikan diri.
- Bila dialihkan dari lingkup stressornya à gejala menghilang dengn cepat (dalam beberapa jam), bila stressor berkelanjutan (tak dapat dialihkan) à gejala baru mereda setelah 24-48 jam, paling lama 3 hari.
- Kerentanan individu dan kemampuan penyesuaian diri memegang peranan dalam terjadinya atau beratnya reaksi stress akut.
- Risiko bertambah pada kelelahan dan usia lanjut.

2. Gangguan stress pasca trauma
- Timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik yang luar biasa berat seperti gempa besar, tsunami dll. (masa laten beberapa minggu – bulan).
- Harus didapatkan bayang-bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik secara berulang-ulang (flashback).
- Traumanya singkat atau berkepanjangan.
- Gejala lain: bengong , emosi tumpul, menjauhi orang, tidak responsif terhadap lingkungan , anhedonia, takut, panik, agresif, bangkitan otonomik berlebihan, anxietas, depresi, insomnia, ide bunuh diri.

3. Gangguan Penyesuaian
- Onset terjadi dalam 1 bulan setelah terjadinya kejadian yang stressful / krisis kehidupan migrasi/pengungsi (termasuk penyakit fisik berat), gejala-gejala paling lama 6 bulan, kecuali reaksi depresi berkepanjangan.
- Manifestasi gangguan bervariasi:
o Reaksi depresi singkat (< 1 bulan).
o Reaksi depresi berkepanjangan (à 2 tahun).
o Reaksi anxietas.
o Reaksi campuran anxietas-depresi.
o Gangguan tingkah laku (aggresif dan dissosial pada remaja).
- Predisposisi atau kerentanan individu lebih berperan dalam risiko terjadinya atau beratnya gejala.
- Pada anak-anak à fenomena regresif: ngompol, isap jempol.

IV. Neurosa neurastenik
Neurastenia
• Kelelahan mental: prestasi kerja, efisiensi kerja, pikiran mengganggu, sulit konsentrasi, ingatan tak menyenangkan, pikir tak efisien.
• Kelelahan fisik: kerja ringan tenaga habis, perasaan sakit, nyeri otot, pusing, nyeri kepala, gangguan tidur, tak bisa santai, mudah tersinggung, dispepsi, anhedonia/semangat , depresi, anxietas ringan.

V. Sindrom Depersonalisasi dan Derealisasi
a. Depersonalisasi : aktivitas mental, tubuh menjadi berubah kualitasnya menjadi tidak riil, asing :
- Tak lagi menguasai pikiran sendiri.
- Gerakan/perilakunya bukan dari diri sendiri.
- Merasa tubuhnya tak bernyawa, asing.

b. Derealisasi : lingkungannya menjadi berubah, tidak riil, asing:
- kehilangan warna, tak hidup, semu
- melihat diri sendiri dari jauh, melihat diri sendiri mati.

Merupakan fenomena : near death experiences.
Dapat terjadi pada orang normal dalam keadaan kelelahan, deprivasi sensorik, intoksikasi halusinogen, hipnagogik dan hipnopompik.

VI. Neurosa hipokondrik
- Preokupasi/keyakinan menetap akan kemungkinan menderita satu atau lebih gangguan fisik yang serius dan progresif.
- Tidak ditemukan kelainan fisik yang jadi dasar keluhannya.
- Penolakan menetap nasihat/penjelasan dokter.

VII. Gangguan Disosiatif/gangguan konversi
Adanya kehilangan parsial/total dari integritas normal antara:
 Ingatan masa lalu.
 Kesadaran akan identitas dan penghayatan .
 Kendali terhadap gerakan tubuh.
Tidak ada bukti adanya gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejala tersebut.
Bukti adanya penyebab psikologis (problem/peristiwa penuh stress), sering disangkal.
1. Amnesia Disosiatif
- Amnesia (hilang daya ingat) mengenai kejadian baru yang bersifat stress/traumatik (seperti kecelakaan, kesedihan dsb).
- Bingung, distress, depresi ringan.
2. Fugue Disosiatif
- Amnesia disosiatif +
- Dengan sengaja melakukan perjalanan tertentu melampaui jarak yang biasa dilakukan sehari-hari.
- Mampu mengurus diri yang mendasar (makan, mandi dsb), melakukan interaksi sosial yang sederhana dengan orang lain yang belum dikenal (bertanya, beli karcis).
3. Stupor Disosiatif
- Gejala stupor (berkurang/hilang gerakan volunter dan respons normal terhadap rangsangan luar, kesadaran baik).
- Penyebab fisik –
- Problem/kejadian penuh stress +
4. Gangguan Trans dan Kesurupan
- Hilang sementara penghayatan akan identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya.
- Perilaku seperti dikuasai pribadi lain, kekuatan gaib, kekuatan lain.
5. Konvulsi Disosiatif
Seperti kejang epileptik, jarang disertai lidah tergigit, luka karena jatuh saat serangan, inkontinensia uirn (ngompol), tidak dijumpai kehilangan kesadaran.
6. Gangguan Kepribadian Multipel
- Dua atau lebih kepribadian pada satu individu, satu yang tampil setiap saat.
- Masing-masing kepribadian lengkap, berbeda satu sama lain.
- Perubahannya mendadak, berkaitan erat dengan peristiwa traumatik.
Lain-lain:
Gangguan motorik disosiatif, gangguan sensorik disosiatif, sindrom Ganser.

Terapi untuk neurosa
I. Psikofarmakologik
Diazepam : Valium 2,5 mg dan inj. 5 mg/cc
Alprazolam : Xanax 0,25 ; 0,5 ; 1 mg
Imipramin : Tofranil 25 mg
Buspiron : Buspar 5 mg
Propranolol : Inderal 10 mg
Klonazepam : Klonopin 0,5 ; 1 ; 2 mg
Klomipramin : Anafranil 10 ; 25 mg
Fluoxetin : Prozac


II. Psikologik
1. Psikoterapi berorientasi insight.
2. Behavior terapi.
3. Terapi kognitif.
4. Terapi kelompok.

8. Gangguan emosi, persepsi, dan isi pikiran
Gangguan emosi, afek, mood
a. Gangguan emosi mendasar
• Depresi patologik, yakni penurunan mood yang disertai rasa sedih dan penurunan kemampuan untuk merasakan kesenangan (anhedonia)
• Peningkatan mood berlebihan, dimana terjadi keceriaan dan ekspresi kesenangan berlebihan
• Kecemasan patologik, dimana timbul rasa cemas yang tidak wajar dan kadang-kadang berefek pada system saraf otonomnya, dengan gejala pucat, tangan dan kaki berkeringat atas kausa yang tidak seharusnya dijadikan penyebab kecemasan
b. Gangguan variabilitas emosi
• Mood mendatar, dimana respon emosionalnya mengalami penurunan yang dapat bervariasi dari hari ke hari atau hitungan jam
• Emosi labil, dimana terjadi peningkatan mood yang tidak jelas
• Emosi inkontinen, dimana terjadi perubahan mood yang tidak menetap, ekstrim, biasanya terjadi pada pasien pasca stroke atau demensia
c. Gangguan hubungan mood dan pikiran
• Merupakan diskontinuitas antara pikiran dan mood-nya, dimana pasien memikirkan hal yang sedih tetapi mood-nya malah menunjukkan kebahagiaan, dan sebaliknya

Gangguan Persepsi
Persepsi adalah suatu proses kesadaran terhadap hal-hal yang disampaikan oleh panca indra. Gangguan persepsi meliputi :
a. Gangguan intensitas persepsi
• Pada persepsi manik, terlihat berlebihan, sementara pada orang depresi, persepsinya mengalami penurunan
b. Gangguan kualitas persepsi
• Terjadi gangguan kualitas sensasi yang tidak perhubungan dengan gangguan organik, misalnya pada pasien skizofrenia bisa merasakan makanan enak menjadi tidak enak, atau bunga yang harum malah dianggap berbau menyengat
c. Ilusi
• Ilusi adalah mispersepsi terhadap stimulus dari luar, biasanya muncul karena penurunan stimulasi sensorik dari suatu benda, perhatian yang tidak fokus, penurunan kesadaran seperti delirium, dan peningkatan emosi (misalnya saat ketakutan)
d. Halusinasi, yakni suatu persepsi yang hadir tanpa adanya stimulus dari luar, tetapi seolah dirasakan oleh panca indra. Terdiri dari :
• Halusinasi auditorik
• Halusinasi visual
• Halusinasi olfaktorik
• Halusinasi pengecapan
• Halusinasi taktil
• Halusinasi sensasi dalam

Gangguan Isi Pikiran
a. Gangguan arus pikiran (stream of thought)
• Penekanan pikiran, dimana terjadi pikiran-pikiran yang membludak, bervariasi, dan cepat, merupakan karakteristik pasien manik dan skizofrenia
• Kemiskinan pikiran, dimana pikiran menjadi sedikit, lambat, dan tidak bervariasi, merupakan karakteristik pasien depresi dan skizofrenia
• Blocking pikiran, dimana terjadi kekosongan pikiran yang tiba-tiba, biasanya pada pasien skizofrenia yang menganggap pikirannya tiba-tiba dihilangkan oleh orang lain
b. Gangguan bentuk pikiran (abnormalitas hubungan pikiran dalam diri)
• Flight of ideas, terjaid perubahan pikiran yang cepat dari ide yang satu ke ide yang lain meskipun pembicaraannya belum selesai, terjadi begitu cepat dan kadang sulit diikuti
• Hilangnya hubungan yang logis antara pikiran yang satu dengan yang lain, dimana pasien membicarakan berbagai ide yang sama sekali tidak berhubungan dan tidak bertujuan, paling sering ditemukan pada pasien skizofrenia
• Pikiran yang menetap, dimana terjadi pengulangan suatu ide yang sama terus menerus, meskipun pertanyaan diganti, pasien akan kembali menjawab pertanyaan pertamanya, sering dijumpai pada pasien demensia.
c. Delusi, adalah suatu kepercayaan yang timbul akibat gangguan isi pikiran terhadap suatu hal tertentu, biasanya dipertahankan oleh pasiennya meskipun sudah ada bukti-bukti yang bertentangan dengan isi pikirannya tersebut. Jenisnya mencakup :
• Delusi paranoid, merupakan waham ketakutan tidak jelas akan adanya serangan terhadap dirinya
• Delusi referensi, merupakan waham yang menganggap suatu benda, kegiatan, atau orang-orang tertentu memiliki tujuan pada dirinya, sering pada skizofrenia
• Delusi kebesaran, dimana pasien merasa paling kaya dan paling berharga, sering pada pasien manik
• Delusi rasa bersalah, merupakan waham yang menganggap dirinya sudah melakukan kesalahan besar yang dapat menyebabkan pasiennya mengalami depresi berat
• Delusi nihilistik
• Delusi hipokondriakal, yakni waham yang salah tentang penyakit
• Delusi kecemburuan
• Delusi seksual
• Delusi control
• Delusi keagamaan









VII. REFERENSI
1. Sinopsis Psikiatri Kaplan dan Saddock Jilid I, Edisi 7. Binarupa Aksara. 1997
2. Sinopsis Psikiatri Kaplan dan Saddock Jilid II, Edisi 7. Binarupa Aksara. 1997
3. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, W.F. Maramis. Airlangga University Press. 1998
4. Gelder, Michael et al. Psychiatry 3rd edition. 2006.USA : Oxford University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar